Read Kata, Waktu: Esai-esai Goenawan Mohamad, 1960-2001 by Goenawan Mohamad Free Online


Ebook Kata, Waktu: Esai-esai Goenawan Mohamad, 1960-2001 by Goenawan Mohamad read! Book Title: Kata, Waktu: Esai-esai Goenawan Mohamad, 1960-2001
The author of the book: Goenawan Mohamad
Language: English
Date of issue: 2001
ISBN: 9799065054
ISBN 13: 9789799065056
Format files: PDF
The size of the: 764 KB
Edition: Pusat Data dan Analisa Tempo

Read full description of the books Kata, Waktu: Esai-esai Goenawan Mohamad, 1960-2001:

41 tahun, 1500 halaman, 650 tulisan, seorang penulis. Tiga minggu, 14 catatan kecil, berpikir keras untuk mengerti, seorang pembaca.

Bagi si pembaca yang gemar tertawa, lebih suka bersenang-senang daripada berpikir, memasuki putaran arus kata-kata bermakna membuat otaknya bekerja lebih keras melahap, mengunyah, dan kemudian mencerna. Namun hanya beberapa persen yang bisa dia mengerti. Mungkin butuh 3 x 3 minggu lagi untuk kemudian memahami dunia dari sudut pandang si penulis.

Arus yang di masuki si pembaca berbeda dari realita kehidupan dia setiap hari. Hedonis, hura-hura, fanatisme tak berdasar, menelan bulat-bulat. Dan kemudian dia disuguhi pertanyaan-pertanyaan yang kata pengantar dari buku ini menggelitik, walaupun adanya ragu. Dunia Sastra, Nasionalisme, Islamisme, Marxisme, Sosialis, Kolonialisme, Revolusi, dan segala tetek bengek dunia, seni, sejarah, pendidikan, politik.

Kata, Waktu sebagian besar dari buku ini di ambil dari Catatan Pinggir, yang diterbitkan oleh Majalah Tempo. Dan setelah 2001 sampai sekarang pun Catatan Pinggir masih setia menemani pembacanya.

Membaca buku ini membuka khasanah berpikir, setidaknya bagi si pembaca. Tiba-tiba di suguhkan sejarah dari sudut pandang yang berbeda yang pernah di baca. Kemudian di beri keindahan dengan sajak-sajak penyair yang baru di ketahui si pembaca. Mempertanyakan agama, menggandrungi Tuhan dengan cara yang di anggap aneh. Merasakan penderitaan akibat dari Revolusi, Komunis. Bertemu dengan orang-orang yang meninggalkan sejarah dan luka bukan hanya pada satu negeri tapi lebih universal. Dan begitu banyak istilah yang tak bisa dimengerti kecuali jika kau memegang kamus di tangan kirimu, dan buku ini di tangan kananmu. Atau mungkin kapasitas otak si pembaca yang kecil dan sempit sehingga tak bisa menangkap pemikiran orang-orang besar. Mungkin "Kata" dan "Waktu" yang akan mengajarkan kita untuk lebih arif memahami dan melakukan.

Tidak semua yang di tuliskan oleh seorang penulis dapat kita benarkan, tapi yang pasti (bagi saya) si penulis pasti akan membuka jalan bagi kita untuk kemudian bergulat dengan dunia kita sendiri, mencari jawaban dengan berbagai cara, dan pada akhirnya kita renungkan bahwa hasil pencarian tersebut berbeda bagi tiap pembaca. Mungkin saja dalam mencari kita akan ragu, terombang-ambing mengiyakan pendapat lain, tidak tegas, tapi kita melalui suatu proses yaitu "berpikir". Itulah yang di dapatkan si pembaca dari buku ini.

Menulis, menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita, adalah proses yang minta pengerahan batin. Dalam pengerahan batin itu seorang seakan-akan menghadapi dirinya sendiri, seakan bercermin. Si penyair mungkin tak akan tahu apakah yang ditulisnya nanti jelek, tapi nanti ia akan tahu apakah yang ditulisnya palsu. Ia tak akan bisa berbohong. Ia harus otentik. H.B.Jassin

Untuk sebuah pengetahuan yang tidak sesat dan menyesatkan, orang tak dapat berdiri hanya di pinggir. -Pengantar Kata, Waktu-

Pada akhirnya si penulis dengan segala komitmen dan keterlibatannya, berpuluh-puluh tahun dan deadline yang mengejar, menyuguhkan suatu dunia baru dalam sebuah tulisan panjang atau pendek. Dunia untuk kemudian mencerna keraguan, mempertanyakan sebuah arti, menikmati kehidupan secara sederhana.

Read Ebooks by Goenawan Mohamad



Read information about the author

Ebook Kata, Waktu: Esai-esai Goenawan Mohamad, 1960-2001 read Online! Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.

Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

(from tokohindonesia.com)


Ebooks PDF Epub



Add a comment to Kata, Waktu: Esai-esai Goenawan Mohamad, 1960-2001




Read EBOOK Kata, Waktu: Esai-esai Goenawan Mohamad, 1960-2001 by Goenawan Mohamad Online free

Download PDF: kata-waktu-esai-esai-goenawan-mohamad-1960-2001.pdf Kata, Waktu: Esai-esai Goenawan Mohamad, 1960-2001 PDF